Sejarah

Sejarah

Sejarah Program Studi Spesialis 1 Ilmu Bedah Anak

Ilmu dan teknologi kedokteran dalam bidang ilmu bedah di dunia terus berkembang dan menyebabkan semakin mengerucutnya pendalaman cabang keilmuan bedah menjadi lebih spesifik. Dalam perkembangannya sesuai dengan misi pendidikan, pelayanan dan penelitian bagian ilmu bedah Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga berkembang membentuk beberapa divisi yaitu ; bedah digestiv, bedah onkologi, bedah thoraksdan vaskular, bedah anak, dan bedah kepala leher.

Bidang ilmu bedah anak saat ini berkembang sangat pesat.Kemajuan pengetahuan tentang embriologi, tumbuh kembang, cairan dan nutrisi, biologi molekuler telah banyak berkontribusi dalam penatalaksanaan pasien bedah anak. Berkembangnya tehnik-tehnik anestesi, ventilasi paru, penatalaksanaan hipotermi serta digunakannya obat-obatan yang mempengaruhi maturitas paru telah banyak mengubah prosedur penatalaksanaan pasien bedah anak.

Kemajuan alat diagnostik fetomaternal mampu mendeteksi kelainan-kelainan intra uterine serta berkembangnya tehnik pembedahan intra uterine maupun EXITProcedure meningkatkan angka harapan hidup bagi pasien-pasien dengan kelainan berat. Penatalaksanaan bedah neonatus danadanya alat-alat canggihdalam penanganan kasus kelainan bawaan, transplantasi hati, dan pemisahan kembar siam juga telah turut berkontribusi dalam perkembangan ilmu bedah anak.

Hingga tahun 2010, angka kematian bayi di Indonesia masih cukup tinggi yaitu 27,2.Telah menjadi komitmen pemerintah untuk menurunkan angka kematian bayi semaksimal mungkin dengan membentuk program Jaminan Persalinan (jampersal). Dalam program Jampersal terlibat banyak dokter spesialis kandungan dan spesialis anak. Akan tetapi spesialis bedah anak belum banyak dilibatkan mengingat jumlahnya yang masih sedikit.

Saat ini, jumlah spesialis bedah anak di seluruh Indonesia hanya 83 orang untuk melayani 220 juta penduduk Indonesia. Dilihat perbandingan jumlah spesialis bedah anak di Indonesia saat ini, maka seorang spesialis bedah anak harus melayani 2.650.000 penduduk, dibandingkan dengan negara-negara tetangga seperti Singapura, Taiwan dan Hongkong rata-rata seorang spesialis Bedah Anak hanya melayani 400.000 penduduk. Masalah lain adalah penyebaran spesialis Bedah Anak di Indonesia yang tidak merata.

Selain jumlah spesialis bedah anak yang kurang, tuntutan dibentuknya Program Studi Ilmu Bedah Anak menjadi semakin mendesak. Saat ini dibutuhkan dokter spesialis bedah anak dengan cara berfikir baru yang dilandasi oleh ilmu-ilmu dasar yang berhubungan dengan patofisiologi penyakit bedah pada janin, bayi dan anak. Cara berfikir ini sangat penting mengingat di masa depan akan sangat dibutuhkan adanya dokter-dokter spesialis bedah anak yang mendalami bidang-bidang subspesialis tertentu di bidang bedah anak.

Sehubungan dengan hal tersebut, Majelis Kolegium Kedokteran Indonesia (MKKI) pada rapat tanggal 1 September 2004 telah mengesahkan terbentuknya Kolegium BedahAnak Indonesia dengan surat keputusan nomor : 011/S.Kep/MKKI/IX/2004 dan sebagai tindak lanjutnya akan dibuka Program Studi Spesialis Bedah Anak di beberapa Fakultas Kedokteran yang memenuhi syarat. Hal ini diperkuat dengan surat dari MKKI kepada Ketua Komite Pendidikan Kedokteran Indonesia nomor : 88/MKKI/X/2004 pada tanggal 6 Oktober 2004.

Dalam rangka memenuhi kebutuhan nasional, divisi bedah anak Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga – RSUD dr. Soetomo berpartisipasi aktif ┬ádengan menyelenggarakan program studi bedah anak di Surabaya. Mulai bulan Juli tahun 2004 Divisi Bedah Anak Departemen Bedah FK Unair – RSUD dr. Soetomo telah melakukan pendidikan profesi Bedah Anak melalui wewenang yang diberikan Kolegium Bedah Anak Indonesia dengan menerima seorang peserta PPDS II / trainee untuk menjalani pendidikan spesialis Bedah Anak. Lama pendidikan ditempuh selama 4 semester dengan selama pendidikan pada semester akhir terdapat stase di senter bedah anak lain yaitu Jakarta dan Bandung selama dua bulan. Sampai saat ini divisi bedah anak FK Unair telah menghasilkan 8 dokter spesialis bedah anak yang ditempatkan di Samarinda, Denpasar, Solo, Malang dan Surabaya.

Pada saat ini beberapa (terdapat dua) Fakultas Kedokteran telah membukaProgram Studi Spesialis Ilmu Bedah Anak Sp1 dan telah menghasilkan beberapa alumni. Berdasarkan peraturan Konsil Kedokteran Indonesia nomor 8 tahun 2012 tentang Program Pendidikan Dokter Subspesialis dalam pasal 4 disebutkan bahwa pendidikan subspesialis hanya dapat diselenggarakan bila belum didapatkan program pendidikan dokter spesialis serupa. Dengan mempertimbangkan peraturan tersebut serta telah dilakukan tahapan persiapan, Program Pendidikan Profesi Spesialis Sp2 bedah anak di Surabaya perlu melakukan transformasi menjadi Program Pendidikan Spesialis Bedah Anak Sp1